Sabtu, 13 Februari 2016

Teks Drama Anekdot



Setelah sekian lama akhirnya saya membuat postingan baru, yeee!!! Ini adalah naskah drama yang dibuat karena tugas, bukan kemaun pribadi :v
Tanpa panjang lebar, silahkan disimak
             

Akik Regency adalah salah satu perumahan yang cukup terkenal di daerah pinggiran kota Bumiayu. Gang menuju perumahan tersebut setiap harinya selalu dilewati oleh orang-orang yang entah itu dari perumahan itu ataupun hanya lewat saja. Untuk menjaga ketertiban di sana, dibuatlah pos satpam yang berada di depan perumahan ini.
            Tejo, Ali, dan Adir adalah satpam yang dipilih untuk bertugas di sana. Mereka sangat dipercaya oleh warga sekitar sehingga tidak seorangpun yang tidak kenal dengan mereka.
            Pagi ini ada ibu pedagang sayur yang mukanya asing melewati gang itu untuk menjajakan barang dagangannya. Nampaknya dia adalah orang baru di daerah tersebut. Karena merasa kebingungan, maka dia memutuskan untuk bertanya pada Tejo, Ali, dan Adir. Barangkali mereka tau, pikirnya.
 Ibu P. Sayur    : Maaf pak, ini sih lewatnya mana atuh?
Ali                    : Ibu jalan terus aja, nggak susah kok jalannya.
Tejo                 : Li, nggak ada gunanya kamu bantuin orang kaya gitu! Nggak ada manfaatnya buat kita tau! Ngerti lu? (Tejo berbisik pada Ali)
Adir                 : Iya tuh Li, benar kata Tejo. Mending lu mintain uang aja. Lebih berkah buat kita (Adir ikutan berbisik pada Ali)
Tejo                 : Nah itu ide bagus. Bu, karena kami sudah membantu, maka dikenakan biaya sebesar Rp.500 per kata dan ditambah karena Ibu lewat gang ini maka dikenakan biaya tambahan sebesar Rp.5000. Kalo tidak, ibu tidak boleh lewat sini lagi!
Adir                 : Sini! Mana uangnya? (dengan agak membentak)
Ibu P. Sayur     : Lho kok gitu?
Ali                    : Ibu mau lewat nggak! Kalo nggak, sudah sana pergi jangan ke sini lagi!
Ibu P. Sayur     : Baiklah, ini (menyerahkan uang yang diminta).
Tejo                 : Nah gitu dong bu, kan akhirnya untung semua. Kita dapet uang jajan, ibu juga bisa lewat sini kan?
Ibu tersebut hanya diam dan kesal karena tingkah mereka bertiga. Namun apalah daya, ia hanyalah orang baru yang tidak tau apa-apa dibandingkan mereka yang sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat.
            Beberapa jam kemudian datanglah seorang yang dandanannya seperti pembisnis muda namun rambutnya agak gondrong ditemani oleh seorang wanita muda yang dandannanya juga sedikit nyeleneh. Mereka tampak hanya mondar-mandir tanpa memiliki tujuan yang jelas. Tejo, Ali, dan Adir tidak berani menegur karena mereka takut bahwa orang tersebut adalah orang kalangan atas.
            Tiba-tiba sang wanita yang sedari tadi menemani si lelaki muda berjalan menuju arah Tejo.
Wanita Muda   : Hey, nama kamu siapa? Kayaknya kamu yah yang bertugas menjaga ketertiban di sini?
Tejo                 : I.. I... Iya bu.. Perkenalkan, nama saya Tejo. Ibu sendiri siapa?
Wanita Muda   : Oh iya, Tejo yah. Perkenalkan nama saya Mawar dan itu rekan saya namanya Tora. Tejo, panggil kedua temanmu itu ke sini. Aku ada kerjaan untuk kalian bertiga.
Tejo                 : Baiklah. Ali..?? Adir.?? (Panggi Tejo kepada ke dua rekannya tersebut). Ini ada yang mau bicara.
Mawar             : Kalian bertiga kan satpam dan sudah dipercaya oleh masyarakat sini kan? Kalian mau uang tidak?
Adir                 : Iya, kami mau!!
Mawar             : Baiklah kalo begitu.. Begini, kami berdua besok akan melakukan penjambretan dan pencurian. Kerja kalian mudah kok, tinggal awasi sekitar dan katakan bahwa tidak ada apa-apa di sini kepada masyarakat.
Ali                    : Loh, jadi kalian itu pencuri? Aku nggak mau!
Tejo                 : Iya, aku juga tidak mau!
Tora                 : Kalian mau uang tidak?
Adir                 : Tejo, Ali, kita sudah jadi satpam sejak dulu dan kehidupan kita tetap pas-pasan. Ini adalah kesempatan bagus untuk merubah hidup kita. Lagian tugas kita juga sangat mudah. Ayolah, terima saja. (Adir membujuk)
Ali                    : Benar juga apa yang dikatakan oleh Adir, baiklah aku bersedia.
Tejo                 : Iya, aku juga!
Tora                 : Bagus. Besok kita mulai pukul 8 pagi, karena biasanya banyak ibu-ibu yang lewat sini.
Adir                 : Siap!!
Keesokan harinya, tepat pukul 8 seperti yang mereka rencanakan mereka sudah siap dengan tugas masing-masing. Korban pertama mereka adalah seorang ibu-ibu yang sedang membawa motor sendirian. Mawar yang mukanya polos itu, pura-pura minta bantuan ke ibu tersebut. Dan ibu tersebut tidak taubahwa bahaya sedang ada dihadapannya.

Mawar             : Bu, tolong (sambil melambaikan tangan)
Ibu tersebut berhenti dan langsung menanyakan apa yang terjadi.
Ibu                   : Ya ampun, kena apa dek?
Mawar             : Ini bu, tadi kaki saya terkilir pas bawa barang belanjaan ini. Ibu rumahnya di mana?
Ibu tersebut teralihkan perhatiannya oleh Mawar, ia tidak tau bahwa Tora sedang mengambil tas yang ia tinggalkan di motornya.
Ibu                   : Ibu pulannya ke sana (sambil menunjuk)
Mawar             : Oh berarti beda yah bu, ya udah saya ikut sampai sana aja, tolong ya bu.
Ibu                   : Iya udah dek, cepet sini naik.
Ibu tersebut tidak menyadari jika tasnya sudah raib digondol Tora. Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di depan rumah yang Mawar tunjukan.
            Aksi mereka yang pertama berhasil dengan sempurna. Mawar kemudian berjalan kembali ke tempat mereka berkumpul. Mereka terlihat asik menghitung uang hasil aksi mereka.
            Tibalah waktunya untuk aksi yang kedua. Kali ini yang diincar adalah motor korban. Korban sendiri adalah siswi yang kebetulan lewat daerah itu. Tora meminta Adir untuk menghentikan siswi tersebut. Tora tau jika siswi tersebut akan menurut pada Adir. Tanpa waktu lama, dimulailah aksi yang kedua tersebut.
Adir                 : Berhenti! Kamu coba turun dulu dulu, coba mana SIMnya? (berlagak seperti polisi)
Siswi                            : Loh kok Pak Adir tumben nanyain tentang SIM?
Adir                             : Cepetan, nggak usah banyak omong.
Siswi                            : Iya-iya ini pak. (dengan enggan)
            Seperti biasa, Tora lah yang melakukan aksi pencuriannya. Ia berusaha membawa sepeda motor siswi tersebut namun sialnnya siswi tersebut melihat aksinya. Iya langsung berteriak, namun mawar keburu menutup mulut siswi tersebut dengan tangannya.
            Tak disangka-sangka ternyata ada 2 orang polisi yang berada di dekat area itu sedang jalan-jalan menggunakan sepeda. Melihat kejadian tersebut meraka langsung menodongkan senjata ke arah komplotan pencuri itu.
Polisi 1             : Diam! Lepaskan dia!
Polisi 2             : Berdiri menghadap tembok! Letakan tangan dibelakang!
Polisi 1             : Kalian juga! Bukannya menjaga ketertiban malah menyalahgunakan profesi kalian! Malu-maluin tau nggak! Yang kalian lakukan ini benar-benar salah! (berbicara ke Tejo, Adir, dan Ali)
Polisi 2             : Diam kamu! (mengeceki pakaian pelaku)
Polisi 1             : Akan aku panggil ketua RT kesini, biar tau kalo bawahannya berbuat seperti ini!
Sesampainya ketua RT di tempat kejadian
Ketua RT         : Ya ampun Tejo, Adir, Ali! Kaian ini gimana? Kan kalian sudah bapak kasih kepercayaan. Bahkan semua masyarakat disini juga sudah percaya sama kalian. Bahkan kemarin ada ibu penjual sayur yang mengadu ke saya bahwa ada 3 satpam yang melakukan pemerasan tapi saya tidak pedulikan. Karena apa? Karena saya percaya sama kalian! Tapi kalian malah kaya gini!
Polisi 2             : Sudah cukup pak, biar kami yang urus.
Ketua RT         : Iya terima kasih, berkat kalian Akik Regency aman kembali. Sekali lagi bapak benar-benar berterima kasih.

Seperti itulah negri ini. Orang yang memiliki wewenang baisanya menjadi lupa dan tamak. Semakin ia mendapat kepercayaan, semakin iya berbuat sewenang-wenang.     








Tidak ada komentar:

Posting Komentar